Bank SulutGo Gairahkan Bisnis Pariwisata

Manado, 8/5 (Antara) - Pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata berada di urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditas minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit.

Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting dalam pariwisata di Indonesia. Alam Indonesia memiliki kombinasi iklim tropis, sebanyak 17.508 pulau yang 6.000 di antaranya tidak dihuni, serta garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa.

Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar dan berpenduduk terbanyak di dunia. Pantai-pantai di Bali, tempat menyelam di Bunaken, Gunung Rinjani di Lombok, dan berbagai taman nasional di Sumatera merupakan contoh tujuan wisata alam di Indonesia.

Pada tahun ini sektor pariwisata menjadi salah satu andalan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla untuk meraup devisa. Tanda-tanda sebagai sektor penyumbang devisa terbesar sudah mulai terlihat pada tahun ini meskipun targetnya pada tahun 2019.

Bahkan, sejumlah pengamat memperkirakan devisa pariwisata akan melonjak 25 persen sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Selain masalah peningkatan kunjungan wisman, pemerintah juga memperjuangkan peningkatan kontribusi investasi pariwisata terhadap tingkat investasi daerah maupun nasional. Mau tidak mau, peningkatan kunjungan harus dibarengi dengan pembangunan berbagai infrastruktur dan institusi-institusi yang terkait langsung dengan sektor pariwisata guna mendukung tumbuh kembangnya pariwisata tersebut.

Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (SulutGo) akan menyasar pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pariwisata dan pertanian.

Direktur Utama PT Bank SulutGo Jeffry Dendeng mengatakan bahwa pada tahun ini pihaknya akan meningkatkan pembiayaan ke UMKM yang fokusnya pada petani dan pelaku wisata.

Jeffry mengatakan bahwa sektor ini memiliki potensi yang cukup besar sehingga perlu peningkatan, baik produksi maupun produktivitasnya. Apalagi, Pemerintah Provinsi Sulut sedang mengembangkan kedua sektor tersebut karena diyakini mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Disamping memberikan pembiayaan, Bank SulutGo akan terus memberikan edukasi dan sosialisasi sehingga kredit tetap berkualitas dan tepat sasaran.

Ada begitu banyak pelaku usaha yang akan menunjang peningkatan sektor pariwisata di sulut yang masih perlu diberikan pembiayaan sehingga bisa maju dan berkembang. Ia berharap pada tahun ini peningkatan pembiayaan ke sektor produktif akan lebih tinggi dan didominasi oleh UMKM yang membidangi pariwisata.

Meningkat Signifikan Sebagai upaya meningkatkan ekonomi daerah, Bank SulutGo memacu penyaluran kredit khusus kepada pelaku UMKM. Tercatat pada Triwulan I 2018 meningkat 161 persen. Kredit kepada pelaku UMKM mencapai Rp823,26 miliar, atau naik 161 persen dari posisi akhir Maret 2017 sebesar Rp315,82 miliar.

Jeffry mengatakan bahwa Bank SulutGo akan terus berkomitmen untuk meningkatkan pembiayaan pada sektor produktif.

"Harus saya akui, kredit konsumtif masih mendominasi sehingga ke depan akan terus diseimbangkan dengan kredit produktif," katanya.

Hingga akhir Maret 2018, kenaikan kredit terjadi, baik di sektor    UMKM maupun non-UMKM.

Sementara, kredit kepada non-UMKM pada 3 bulan pertama tahun ini tercatat senilai Rp10,25 triliun, atau tumbuh 16 persen dari posisi pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp8,84 triliun.

Kendati demikian, lebih pesatnya peningkatan kredit ke sektor UMKM membuat porsinya juga bertambah. Pada Kuartal I 2017, porsi penyaluran kredit ke sektor ini hanya mencapai 3,45 persen dari keseluruhan kredit.

Sementara itu, pada tahun ini, porsi kredit ke UMKM bertambah hingga 7,43 persen. Apalagi, ada permintaan dari pemegang saham untuk lebih berperan dalam perekonomian daerah, terutama kepada pelaku UMKM, pengusaha, kontraktor, dan pedagang.

Semua sektor riil, seperti UMKM semuanya disasar. Prioritas utama tetap di pariwisata dan pertanian. Jika pembiayaan difokuskan pada UMKM dan sektor produktif, menurut dia, akan memberikan multiplier effect pada pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Oleh karena itu, Bank SulutGo akan terus memberikan pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku UMKM agar mereka mampu mengolah keuangan dengan baik dan pengembalian pinjaman juga makin lancar. Ia mengatakan bahwa UMKM merupakan sektor yang paling bertahan di tengah kondisi ekonomi yang krisis sehingga perlu mendapatkan peningkatan produktivitas.

Harapan Gubernur 

Gubernur Sulut Olly Dondokambey berharap Bank SulutGo lebih memperhatikan sektor riil yang akan memberi dampak cukup besar pada perekonomian.

Pada saat ini pemerintah baik pusat maupun sulut sendiri untuk sementara meningkatkan sektor pariwisata. Dia berharap Bank SulutGo ikut ambil bagian di dalamnya.

Olly cukup yakin sektor pariwisata ini mampu meningkatkan perekonomian daerah lebih tinggi lagi. Jika sektor pariwisata berkembang baik, otomatis sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan jasa-jasa lainnya akan ikut meningkat karena sektor-sektor ini akan terkait dengan satu sama lain.

Sebagai BPD, harus berperan penting sehingga perekonomian Sulut makin tinggi.Gubernur Olly menginginkan pariwisata daera h tersebut menjadi Bali kedua yang mampu menyerap banyak kunjungan wisatawan.

Oleh karena itu, dukungan perbankan dan dunia usaha lainnya sangat dibutuhkan. Apalagi, Bank SulutGo sebagai bank milik daerah harus memiliki peran penting di dalam pertumbuhan ekonomi. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah daerah terus mengoptimalkan pembangunan infrastruktur penunjang sektor pariwisata.

"Ini bukan menjadi suatu halangan baginya, melainkan tantangan dalam rangka memajukan pariwisata di Sulut," ujarnya.

Gubernur mengatakan bahwa maskapai-maskapai penerbangan banyak yang mulai tertarik membuka rute penerbangan m enuju Manado, baik domestik maupun luar negeri.Terobosan-terobosan yang dilakukan pemerintah daerah, kata mantan anggota DPR RI tiga periode ini bukan tanpa target.

Pemerintah provinsi juga mendorong kabupaten dan kota membuat agenda-agenda pariwisata berskala nasional maupun internasional yang terintegrasi dengan kalender pariwisata Pemerintah Provinsi Sulut.

Potensi-potensi daerah yang berpotensi menarik kunjungan wisatawan, kata dia, harus dikembangkan dan manakala berkunjung ke daerah ini disuguhkan dengan beragam atraksi dan tidak monoton. Kepala Dinas Pariwisata Daerah, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Daniel A. Mewengkang mengatakan Sulut perlu mengadopsi pariwisata Spanyol dalam meningkatkan kunjungan wisman.

"Sulut harus mencontoh pariwisata di Spanyol yang mampu mendatangkan wisman lebih banyak dari jumlah penduduknya," kata Daniel.

Daniel mengatakan bahwa Spanyol yang walaupun jumlah penduduknya hanya 42 juta, wisatawan yang datang ke negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik itu mencapai 62 jutaan.Menariknya, menyikapi konotasi buruk tentang pariwisata yang dikenal dengan sebutan 4B, 5B, dan seterusnya di Sulut, Daniel menyampaikan pesan agar pekerja pariwi sata, khususnya kaum perempuan untuk menepisnya.Daniel juga menegaskan bahwa pariwisata memang identik dengan eksploitasi seks, seperti halnya Thailand yang kemudian maju pesat. Akan tetapi, Sulut tidak akan menirunya.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) Soekowardojo mengatakan bahwa sektor pariwisata menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Sulut sehingga mampu mencapai 6,68 persen pada Triwulan I 2018.

Artikel terkait: Binthe Biluti Kuliner Tradisional Gorontalo

Kinerja pariwisata sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan perkembangan makin membaik, kata Soekowardojo di Manado, Senin.Hal tersebut ditunjukkan oleh peningkatan jumlah  wisatawan mancanegara (wisman) pada Triwulan I 2018 sebanyak 29.413 orang atau meningkat 63,3 persen (yoy) dari data pada tahun sebelumnya.

Kunjungan wisatawan tersebut diikuti lama tamu asing menginap di sejumlah hotel. Pada Triwulan I 2018, meningkat sebesar 12,31 persen. Deputi Direktur BI M.H.A. Ridhwan mengatakan bahwa kunjungan wisman   Tiongkok yang mengalami peningkatan cukup signifikan sejak 2 tahun terakhir ini menyusul adanya penerbangan sewa, ini yang mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.

Kondisi tersebut akan membawa multiplier effect ke sektor lainnya. Misalnya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum meningkat sebesar 14,59 persen (yoy) dengan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut sebesar 0,33 persen (yoy).

Pertumbuhan ekonomi Sulut pada Triwulan I 2018 tercatat sebesar 6,68 persen (yoy), meningkat cukup signifikan daripada data periode yang sama pada tahun 2017 sebesar 6,43 persen (yoy) dan juga lebih besar dari data Triwulan IV 2017 yang sebesar 6.53 persen (yoy) serta masih lebih tinggi daripada Triwulan I 2018 tingkat nasional sebesar 5.06 persen (yoy).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut Moh Edy Mahmud memgatakan bahwa kunjungan wisman, Tiongkok dan negara lainnya, sangat berdampak pada ekonomi daerah.

Jika sektor pariwisata meningkat otomatis, menurut dia, dampaknya juga ke sektor pertanian, perkebunan, dan jasa-jasa. Hal ini karena sangat berkaitan dan saling membutuhkan.


Comments

Popular posts from this blog

MIWF Makassar Dihadiri Penulis Mancanegara

Pendidikan Yang Membumi Untuk Anak Bangsa

Risensi Buku Pustaka dan Kebangsaan