Islam Wasathiyah dan Toleransi Beragama di Sulut

Manado, 6/5 (Antara) - Sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkungan lainnya menjadi dambaan semua insan.

Sikap yang mampu menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Inilah yang dinamakan sikap toleransi sehingga dalam kehidupan bermasyarakat, tumbuhnya sikap tersebut menimbulkan hidup yang damai saling berdampingan serta menghindarkan permusuhan.

Contoh sikap toleransi secara umum, antara lain, menghargai pendapat dan atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita serta saling tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang suku, ras, agama, dan kepercayaannya.

Terpilih sebagai kota dengan masyarakat paling toleran di Indonesia menjadi kebanggaan bagi warga Kota Manado, Provinai Sulawesi Utara (Sulut), sekaligus tantangan untuk mempertahankan kerukunan antarumat beragama yang sudah terjalin lama.

Wali Kota Manado Vicky Lumentut mengajak seluruh masyarakat untuk mempertahankan sikap toleransi antarsesama pemeluk agama yang berbeda-beda guna memperkuat semangat perdamaian.

Terpeliharanya sikap hidup toleran dan menghargai di antara pemeluk agama yang berbeda di Manado, kata Vicky Lumentut, sudah ada dan terpelihara sejak lama.

Ketua Forum Ukuwah Ponpres Sulut Ustaz Muyasir mengatakan bahwa harus mendukung dan mendakwahkan Islam Wasathiyah atau Islam yang tengah-tengah atau moderat agar tidak terlalu lemah dalam prinsip. Dengan alasan, katanya lagi, toleransi dan tidak pula radikal yang memaksakan pemahamannya harus dipahami dan diikuti oleh orang lain.

Ia menegaskan bahwa Islam sangat menghargai perbedaan agama dan kepercayaan sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala (Swt.) dalam Surah Albaqarah Ayat 256: "Tidak ada paksaan dalam beragama".

Begitupula Surah Alkafirun Ayat 6: "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku".

Menurut Ustaz Muyasir, tidak ada jalan terbaik untuk mengembangkan Islam Wasathiyah, kecuali dengan merangkul semua kalangan dan mencari kata sepakat bahwa saling membantu pada perkara-perkara yang sudah disepakati dan toleran pada perkara yang berbeda.

Dengan sikap toleransi yang tinggi di Kota Manado, Provinsi Sulut, dia mengucapkan, "Alhamdulillah." Meskipun di lain pihak dia mengakui bahwa masih ada yang terlalu lemah dalam prinsip keagamaan dan sebaliknya masih ada yang terlalu keras.

Namun, secara umum sikap toleransi di Sulut sudah lebih maju daripada daerah lain di Indonesia.

"Islam wasathiyah sebenarnya sudah berjalan sejak lama di Manado dan Sulut pada umumnya," kata Ustaz Muyasir.

Islam adalah Islam 

Ketua Badan Zakat Nasional (Baznas) Sulut Abid Takalamingan mengatakan bahwa Islam adalah Islam, sedangkan wasathiyah/moderat/pertengahan adalah salah satu ciri atau karaktetistik dari Islam di samping karakteristiknya yang lain.

Islam datang sebagai agama yang mendorong umatnya untuk menggapai bahagia dunia juga bahagia akhirat. Wasathiyah merupakan bagian yang sangat penting dari Islam itu sendiri. Ia adalah bagian dari ciri/karakteristik yang prinsip dalam islam.

Abid Takalamingan menjelaskan bahwa wasathiyah berarti pertengahan, yaitu berada pada posisi pertengahan. Wasathiyah artinya adil. Seseorang yang adil dalam memutuskan perkara artinya tidak berat sebelah. Dia memutuskan sebuah perkara dengan hukum sebenarnya. Memberikan kepada pemilik hak yang sesungguhya. Ini juga disebut seorang yang wasat. Wasathiyah juga berarti hal yang terbaik atau yang termulia.

Abid Takalamingan mengatakan bahwa Islam adalah agama akidah membangun kesolehan individu sekaligus agama ijtimaiah membangun kesolehan sosial.

Jadi, orang Islam itu, menurut dia, harus saleh secara individu sekaligus secara sosial. Itulah makna wasathiyah. Abid menjelaskan lagi tasamuh adalah sikap toleransi Islam terhadap saudara-saudara di luar Agama Islam tetapi tetap dibatasi oleh tidak diperbolehkan tasyamuh atau lebur tanpa batas. Itulah wasathiyah dalam Islam, sehingga Islam menjadi rahmatan lil alamin.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut Abdul Gafur mengatakan bahwa Islam wasathiyah adalah Islam yang tidak terlalu ke kanan dan juga tidak ke kiri.

Namun, masalah wasathiyah terkadang "kabur" di tengah kaum muslimin, dalam artian tidak ditempatkan secara proporsional. Terkadang Islam wasathiyah disebut dengan Islam yang moderat. Namun, ketika berbicara tentang Islam moderat terkadang orang keliru dalam memahaminya. Ketika seseorang berpegang teguh pada Islam, malah dianggap tidak bersikap wasat (pertengahan).

Di sisi lain, kata Abdul Gafur, begitu banyak orang yang mengatas namakan Islam, berjuang atas nama Islam, dan berlabel Islam. Namun, mereka telah meninggalkan satu karakteristik Islam yang melekat padanya, yaitu sifat wasathiyah. Oleh karena itu, Indonesia tampil dan dianggap umat Islam terbesar di dunia yang telah melaksanakan Islam wasathiyah untuk bisa meredahkan pertikaian yang telah terjadi di Timur Tengah.

Jadi, katanya lagi, paham Islam toleran sangat menjunjung plural, Islam yang rukun damai, inilah yag akan ditularkan kepada umat Islam di dunia.

Menurut Abdul Gafur, di Sulut Islam wasathiyah justru sudah lama ditarapkan oleh orang tua zaman dahulu dan sampai sekarang. Antarmanusia saling menghormati, saling menghargai sesama umat beragama yang ada di Sulut.

Sampai-sampai semua umat beragama yang ada di Sulut, kata dia, membentuk suatu badan yang dinamakan Badan Kerja Sama Antar-Umat Beragama (BKSAUA) Sulut. Organisasi ini satu-satunya yang dibentuk sejak 1969 hingga sekarang. (Nancy Lynda Tigauw)

Islam wasathiyah
Jokowi membuka Konsultasi Tingkat Tinggi Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Istana Kepresidenan Bogor,  Jabar, Selasa(1/5) tentang Islam Wasathiyah (Islam Moderat) yang dihadiri oleh sekitar 100 orang ulama

Comments

Popular posts from this blog

MIWF Makassar Dihadiri Penulis Mancanegara

Pendidikan Yang Membumi Untuk Anak Bangsa

Risensi Buku Pustaka dan Kebangsaan