Membumikan Pancasila Sejak Usia Dini

Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1045

Manado, 2/6 (Sampetoding) - Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada generasi penerus sejak usia dini hingga beranjak pemuda. Terlebih dalam menghadapi persaingan dengan kemajuan bangsa lain pada masa yang akan datang, merekalah andalannya.

Suatu bangsa yang besar harus mampu bersaing dengan bangsa lain dalam hal apapun.

Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, terjadinya perubahan emosional, sikap, tingkah laku, opini, dan motivasi merupakan cerminan secara signifikan terhadap pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap nilai-nilai Pancasila.

Demokratisasi yang tidak terkendali dan tidak didasari dengan pemahaman nilai-nilai Pancasila telah memunculkan sikap individualistis yang sangat jauh berbeda dengan nilai-nilai Pancasila yang lebih mementingkan keseimbangan, kerja sama, saling menghormati, kesamaan, dan kesederajatan dalam hubungan manusia dengan sesama lainnya.

Semua dampak euforia reformasi yang dihadapi saat ini, perlu disikapi oleh segenap komponen bangsa melalui pemahaman yang benar, utuh, dan menyeluruh dalam konteks semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Semangat tersebut merupakan kata kunci dari aktualisasi dan implementasi nilai-nilai luhur Pancasila yang harus terus ditumbuhkembangkan oleh generasi penerus.

Seluruh komponen bangsa harus mampu menyikapi berbagai permasalahan, perbedaan, dan kemajemukan dengan berpedoman pada empat pilar wawasan kebangsaan yang dibangun oleh para pendiri bangsa. Seluruh anak bangsa harus proaktif untuk menciptakan, membina, mengembangkan, dan memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa yang kerap menghadapi potensi perpecahan.

Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Puspa Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Piet Hein Pusung mengatakan pihaknya fokus terhadap penanaman nilai-nilai Pancasila pada anak-anak usia dini, dengan mendidik mereka untuk saling menghargai perbedaan.

Bagi dirinya, kalau perdamaian maupun kebencian itu diajarkan, ia mengajak untuk memilih mengajarkan perdamaian bagi anak-anak.

Jika semangat perdamaian menjadi bagian yang tak terpisahkan diajarkan sejak anak usia dini, maka selama pertumbuhan generasi Bangsa Indonesia, tidak akan terjerat pada paham-paham yang menyesatkan.

Peran orang tua, tenaga pendidik, dan bahkan tokoh agama serta masyarakat sebagai penting untuk mengajarkan perdamaian kepada anak-anak.

Ketua Komisi Pelayanan Anak Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Michael Octavian Mait mengatakan pendidikan tentang perdamaian adalah barometer yang paling pas ditanamkan dalam kehidupan anak.

Bicara soal perdamaian itu pasti akan terafiliasi dalam keseharian mereka, baik di tengah keluarga maupun saat mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Berdamai dengan sesama dan alam ciptaan menjadi bukti bahwa pemeliharaan Tuhan terus dirasakan oleh setiap umat manusia.

Hari Lahirnya Pancasila menjadi momentum penting dalam memaknai indahnya perbedaan dalam satu bingkai Pancasila.

Semangat awal persatuan Indonesia lahir dari perbedaan. Hal itu harus terus diingatkan dan ditanamkan sejak dini bagi anak-anak, baik di lingkungan sekolah maupun rumah.

Ia mengingatkan bahwa orang tua turut memberikan kontribusi besar dalam penanaman nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya.

Dalam upaya ke depan, pihaknya akan melakukan kegiatan yang bertajuk, "Menyemai Perdamaian Anak Lintas Iman" dengan melibatkan anak-anak dari berbagai latar belakang.

Dengan menyadari bahwa Sulut sebagai daerah paling toleran (penghargaan pemerintah pusat), hal itu akan terus menjadi pelopor semangat pemersatu bangsa.

Mampu Sekretaris Remaja Sinode GMIM Melky Patiwael mengatakan Pancasila merupakan kebanggaan warga bangsa karena mampu menyatukan rakyat yang berbeda-beda menjadi satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), diikat dengan ideologi Pancasila, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Memahami Pancasila dan meresapi dalam hati, mengesampingkan perbedaan hingga timbul semangat cinta kasih adalah cara mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pihaknya mengajak kepada generasi muda menanamkan nilai-nilai Pancasila yang kuat, dengan menumbuhkan toleransi yang tinggi kepada sesama warga bangsa.

"Karena, jika kita tak memiliki toleransi yang akan ada adalah intoleransi. Intoleransi merupakan cara untuk memecah belah Indonesia," katanya.

Akhirnya biarlah warga bangsa ini hidup dalam kemajemukan dengan semangat persaudaraan yang tinggi, menerapkan cinta kasih di atas segala-galanya.

Dengan demikian, keyakinan atas sikap diri dalam posisi benar, tidak akan menghakimi orang untuk harus bersalah.

Ketua Remaja GMIM Kalawiran James Moray mengatakan saat ini anak-anak, remaja, bahkan pemuda dihadapkan dengan dunia yang makin canggih karena era digitalisasi. Era digital bisa memberikan dampak negatif maupun positif pada anak dan pemuda.

Tak jarang terpantau dari usia masih balita sudah pintar menggunakan gawai untuk mengakses segala sesuatu melalui internet.

James mengakui era digitalisasi banyak memengaruhi pengamalan nilai-nilai Pancasila pasalnya perkembangan digitalisasi juga mengakibatkan nilai-nilai asing, khususnya paham radikal, dengan mudah dapat merusak tatanan kehidupan yang berlandaskan Pancasila itu.

Tetapi, ujar dia, di sisi lain, era digitalisasi juga bisa membuat nilai-nilai Pancasila akan makin membumi karena penyebaran nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi muda bisa lebih mudah dilaksanakan.

Cara ini cukup efektif dan efisien karena kampanya Pancasila bisa menggunakan kemajuan era digital, antara lain media sosial.

Kampanye itu intinya tentang bagaimana menekankan Pancasila sebagai dasar negara dengan menjadikan sebagai tatanan hidup bangsa yang makin kuat. Meskipun berada pada era digitalitasi, Pancasila akan tetap kokoh.

Tokoh Pemuda Kakas Minahasa Juddy Maindoka menyebut Pancasila sebagai hal yang mutlak, dengan keberadaannya di NKRI yang tidak bisa ditawar.

Kalangan pemuda pada masa kini memiliki kewajiban mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, "Karena, hanya dengan demikian NKRI ini dapat terus lestari," katanya.

Rumah bangsa Saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Ke-73 Pancasila di Stadion Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengatakan bahwa Pancasila sudah menjadi rumah bagi bangsa Indonesia.

Selama 73 tahun, Pancasila mampu bertahan dan tumbuh di tengah deru ombak ideologi-ideologi lain yang berusaha menggesernya.

"Selama itu pula, Pancasila sudah menjadi rumah bagi bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.

Nilai-nilai Pancasila, kata Olly, akan terus mengalir dalam denyut nadi seluruh rakyat Indonesia, dan di dalamnya masyarakat Sulut.

Gubernur Olly menuturkan Pancasila berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada Indonesia, melalui perenungan, pergulatan pemikiran, dan kejernihan batin para pendiri bangsa.

Pancasila pertama kali diuraikan secara jelas oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945, kemudian dituangkan dalam Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, dan dirumuskan secara final pada 18 Agustus 1945.

Pancasila berperan sebagai falsafah dan dasar negara yang kokoh, yang menjadi fondasi dibangunnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Adalah tugas dan tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa Pancasila selalu hadir dalam setiap sudut kehidupan serta hati dan pikiran warga bangsa ini, sejak usia dini sampai dewasa.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini harus meneguhkan semangat untuk bersatu, berbagi, dan berprestasi. Dengan modal semangat dan energi kebersamaan, bangsa Indonesia mampu berprestasi untuk menang kompetisi dengan bangsa lain. Bangsa Indonesia harus percaya diri dan berani bersaing dalam kehidupan dunia yang makin terbuka dan kompetitif.

Sedangkan Sulut, ujarnya, harus melakukan lompatan besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar makin unggul dan tangguh. Gubernur optimistis bahwa semangat berprestasi juga membara di seluruh lapisan masyarakat dengan seluruh profesinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-73 dilanjutkan dengan Pawai Parade Pancasila yang dilepas oleh Gubernur Olly dengan melibatkan unsur organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, jajaran TNI/Polri, aparatur sipil negara, pemuda, dan pelajar.

Parade itu sebagai bagian dari upaya membumikan nilai-nilai Pancasila ke relung hati anak negeri. (Nancy Lynda Tigauw)


Pidato Bung Karno tentang Pancasila

Comments

Popular posts from this blog

MIWF Makassar Dihadiri Penulis Mancanegara

Pendidikan Yang Membumi Untuk Anak Bangsa

Risensi Buku Pustaka dan Kebangsaan