Polisi Pun Bukan Jaminan Kebal Ideologi Teroris


Jakarta, (Sampetoding, 31/5/2018) – Organisasi teroris meracuni pikiran masyarakat melalui beragam cara, dari yang paling halus sampai paling kasar, dari tradisional sampai modern, dari cara tersembunyi sampai terang-terangan. Dengan caranya mereka menciptakan mesin pembunuh dibalut dogma agama yang dipelintir habis-habisan, melahirkan zombie-zombie, mayat hidup yang siap di-remote jarak jauh kapan harus meledakkan diri.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sudah terang-terangan menunjuk tujuh kampus negeri ternama disusupi paham radikal. Yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya.

Selain itu, BNPT menilai kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme, khususnya pada jurusan eksakta dan kedokteran. Bahkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir melihat bukan hanya tujuh kampus itu yang terpapar paham radikal, sangat mungkin lebih, potensinya besar.

Nasir menjelaskan di Jakarta, Kamis (31/5) paparan radikalisme di kampus berlangsung sejak 35 tahun lalu, tepatnya pada 1983. Saat itu, katanya, pemerintah menerapkan Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Sehingga praktis kehidupan politik di kampus dilarang. Kekosongan tersebut diisi oleh kelompok yang menyebarkan paham radikal.

"Sekarang penyebaran radikalisme tidak hanya melalui kampus, namun langsung ke setiap individu melalui media sosial," Nasir menambahkan. Paham terorisme menyusup ke banyak sendi kehidupan masyarakat.

Lebih daripada itu, polisi yang didoktrin sebagai pelindung masyarakat pun tidak ada jaminan kebal ideologi teroris.

Kabar mencengangkan ini disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Ia mengungkapkan ada anggota kepolisian di Jambi yang ditangkap karena diduga terpapar ideologi radikalisme. Anggota tersebut masih diperiksa.

Kapolri Tito menjelaskan, polisi yang identitasnya belum diungkap itu bukan teroris, tapi diduga mulai agak terkena ideologi teroris.

“Sekarang lagi di-assessment, apakah dia ini bagian dari jaringan atau sekadar simpatisan atau sekadar main-main," kata Tito di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (30/5).

Ia tidak merinci kapan penangkapan anggota polisi tersebut di Jambi. Tito menjelaskan dirinya akan mengambil tindakan sangat tegas kalau ternyata nanti ada unsur pidananya. Kalau melanggar kode etik, ia akan kenakan sanksi etik.

Ia menjelaskan, anggota polisi tersebut saat ini diperiksa di Propam. "Kalau ada pelanggaran, apa pun pelanggarannya dikenakan sanksi," Tito menegaskan.

Tito lebih jauh menjelaskan, paham radikalisme bisa memapar siapa pun, tak terkecuali anggota polisi. Untuk mencegah anggota polisi dari paparan ideologi teroris, selain dilakukan assessment, ia mengatakan Polri akan memperkuat kurikulum dan doktrin kepolisian. (AF)

Comments

Popular posts from this blog

MIWF Makassar Dihadiri Penulis Mancanegara

Pendidikan Yang Membumi Untuk Anak Bangsa

Risensi Buku Pustaka dan Kebangsaan