Jakabiring Miliki Pusat Medis Lengkap Mandiri


Menilik perhelatan Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang, tentu tidak terlepas dari peran para relawan yang turut andil dalam pelaksanaannya sehingga bisa berjalan lancar.

Salah satu elemennya ialah fasilitas kesehatan yang digelar dengan tenaga medis profesional dan perlengkapan canggih di kedua kota yang menjadi tempat pelaksanaan pesta olahraga terbesar di benua Asia tersebut.

Penggelaran fasilitas kesehatan yang dikhususkan guna mendukung kelancaran Asian Games tidak main-main, karena ada lebih dari 16.000 atlet dan ofisial hadir dalam agenda ini.

Di Palembang, tepatnya di Polyclinic Medical Center Jakabaring Sport City (PMC JSC), tenaga medis dan perlengkapan yang dikerahkan pun tidak kalah besarnya dibandingkan dengan di Jakarta yang menjadi pusat pelaksanaan Asian Games.

Menurut salah seorang penanggung jawab PMC JSC, dokter Irfanuddin, paling tidak terdapat lebih dari 100 tenaga kesehatan yang terdiri atas 90 staf, 12 dokter umum, dan 16 dokter spesialis di PMC.

Untuk spesialisnya, mulai dari dokter spesialis penyakit dalam atau internis, ortopedi, anestesi, mata, gigi, hingga kedokteran olahraga. Banyaknya spesialisasi itu guna mengatasi potensi berbagai penyakit, keluhan medis, atau cedera yang mungkin dialami atlet, baik sebelum, sesudah, maupun saat pertandingan.

Meski didedikasikan khusus untuk mendukung kesehatan atlet, kata dokter yang berdinas di Fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya itu, PMC juga tidak menutup pintu untuk memberikan pertolongan medis bagi para pengunjung maupun relawan Asian Games.

Kelengkapan PMC Jakabaring tidak hanya pada aspek spesialisasi dokter, namun juga perlengkapan yang digunakan, mulai perangkat radiologi, ultrasound, fisioterapi, alat pacu jantung, ruang pemeriksaan mata, ruang observasi dan stabilisasi, sauna, hingga jacuzi tersedia dengan lengkap dan bisa digunakan selama 24 jam.

Selain untuk penanganan langsung, ketersediaan perangkat canggih tersebut juga berfungsi sebagai penyaring untuk menentukan apakah pasien perlu dirujuk ke rumah sakit atau tidak.

"Kita tangani dulu secara optimal di sini, namun ada juga yang perlu dirujuk ke rumah sakit. Itu biasanya kasus-kasus yang perlu penanganan invasif yang lebih mendalam dan canggih. Kalau alat-alat di sini tidak bisa menangani, kami rujuk ke rumah sakit," ujar Irfan menerangkan.

Untuk mobilisasi pasien dari lokasi arena ke PMC atau dari PMC ke rumah sakit rujukan, paling tidak terdapat sedikitnya 30 ambulans yang akan menjadi tulang punggung aktivitas tersebut.

Pada setiap arena, ada dua ambulans yang tersedia, satu khusus untuk atlet dan satu untuk pasien dari kalangan penonton atau pengunjung.

Mekanismenya, jika penanganan oleh tim medis di arena dirasa kurang maka pasien akan dirujuk menuju PMC Jakabaring dengan ambulans yang ada.

Sementara itu, di PMC ada tiga ambulans yang disiapkan, yang akan bergeser menggantikan posisi ambulans yang berbasis di arena apabila merujuk pasien ke PMC.

Dalam operasionalnya, PMC Jakabaring juga bekerja sama dengan empat rumah sakit terbaik di Palembang, yaitu RS Bari, RS Charitas, RS Siti Khodijah, dan yang paling unggul ialah RS Muhammad Hoesin yang sudah mengantongi akreditasi Joint Commission International (JCI).

"Ada juga bantuan teknis dan tenaga dari Dinas Kesehatan Kota Palembang dan kabupaten sekitar. Rasanya tidak perlulah bantuan dari Jakarta, karena sudah sangat lengkap," tutur Irfan diakhiri dengan tawa.

Peta Keluhan Hingga menjelang akhir pelaksanaan Asian Games di Palembang, PMC Jakabaring telah memetakan sejumlah keluhan medis yang dialami pasien.

Untuk kalangan atlet atau ofisial, terdapat perubahan pola keluhan pada awal kedatangan di Palembang hingga masa pertengahan.

Pada tahap awal, kebanyakan atlet atau ofisial datang dengan keluhan berupa kelelahan, flu, hingga radang tenggorokan, yang lebih dikarenakan menurunnya faktor imunitas tubuh.

Saat masa pertandingan muncul beberapa kasus cedera tulang bagian belakang, persendian, dan otot yang kebanyakan dapat ditangani langsung oleh tim medis di PMC. Meskipun ada pula penanganan cedera yang mengharuskan untuk dirujuk ke rumah sakit, jumlahnya masih dalam hitungan jari.

Pada tahap selanjutnya, muncul pula keluhan pada pranata pencernaan dari para atlet dan ofisial.

"Sebetulnya di ruang makan penginapan atlet pilihan menunya banyak, tapi ada yang mengalami gangguan pencernaan. Pas saya tanya karena habis jajan panganan lokal, mungkin 'cuko' (kuah pempek) ya. Perut mereka tidak cocok," tutur Irfan.

Hampir semua cabang olahraga yang ditandingkan di Palembang menyumbang jumlah pasien yang relatif setara, sehingga tidak ada perbedaan yang mencolok.

Namun jika dilihat dari asal negara, India dan Indonesia menjadi mayoritas dalam penanganan medis PMC Jakabaring.

Secara statistik, penanganan medis yang terbanyak justru tidak diberikan kepada atlet atau ofisial, namun banyak diberikan kepada relawan atau panitia Asian Games dan pengunjung.

Tidak sedikit dari panitia, relawan, dan tenaga pendukung lainnya harus bekerja 24 jam atau bekerja melebih batas stamina sebagaimana mestinya.

Meski pasokan logistik bagi panitia terjaga dengan baik, akibat jam kerja berlebih serta pola makan yang tidak terjaga, menyebabkan kelelahan atau naiknya tekanan darah sejumlah panitia.

Comments

Popular posts from this blog

MIWF Makassar Dihadiri Penulis Mancanegara

Pendidikan Yang Membumi Untuk Anak Bangsa

Risensi Buku Pustaka dan Kebangsaan