Pesona Wisata Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta

Sebuah kawasan wisata yang beberapa ratus tahun lalu menjadi pusat pemerintahan (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) yang terletak di Jakarta Barat ternyata tetap mengundang rasa kekaguman para pengunjungnya karena dipelihara dengan baik.

Julukan yang diberikan oleh pelayar Eropa di abad 16 untuk Jakarta lama atau kini disebut Kota Tua, di mana kawasan ini menjadi ikon dari Kota Jakarta adalah "Ratu dari Timur" dan "Permata Asia".

Peninggalan-peninggalan yang masih tetap berdiri kokoh membuat para pengunjung merasakan bagaimana megahnya Kota Tua pada zaman dahulu yang kini telah berubah alih menjadi Museum.

Di antaranya yaitu Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Mandiri dan Museum Bahari.

Saya kagum dengan arsitektur Kota Tua dan membayangkan pada zaman dahulu sudah maju, apalagi dengan adanya beberapa peninggalan yang dipamerkan di museum sekitaran kawasan Kota Tua, ujar Fitri, salah seorang pengunjung kepada Antara yang ditemui di lokasi Kota Tua, Jakarta, Selasa (16/10).

Selain museum juga terdapat bangunan tua lain seperti tempat ibadah Masjid Luar Batang, Masjid An-Nawier dan Masjid Langgar Tinggi serta pertokoan yang sampai saat ini masih aktif beroperasi yaitu Toko Merah, Cafe Batavia, Menara Syahbandar, Pos Indonesia, Stasiun Jakarta Kota, dan Jembatan Kota Intan.

Bagi Fitri, seorang ibu muda, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan senangnya ketika melihat sebuah bangunan yang sudah berusia ratusan tahun masih tetap berdiri dengan kokoh.

Fitri mengatakan bangunan- bangunan itu memiliki karakteristik yang khas sehingga bangunan yang ada di kawasan Kota Tua ini unik.

Bangunan maupun barang-barang yang ada Museum Fatahillah memiliki ciri khas bangunan Eropa Tengah identik dengan langit-langit yang tinggi, jendela yang besar, lampu kristal di ruang tengah.

Banyak peninggalan yang ada di museum di Kota Tua inin seperti Museum Fatahillah, tidak diubah posisi atau letaknya, tetap diletakkan di posisi yang sama dengan penggunaannya di zamannya.

Contohnya, seperti meja makan yang dulunya digunakan oleh orang Belanda untuk berkumpul dan makan, tempat tidur, maupun barang-barang yang digunakan sehari-hari yaitu kaca, alat tulis, dan gelas yang terbuat dari perak maupun tembaga.

Selain barang barang yang digunakan oleh orang Belanda saat itu, ada juga boneka-boneka orang atau wayang yang digunakan oleh orang Indonesia untuk memperkenalkan budaya Indonesia maupun agama, yang terletak di Museum Wayang yang terletak di samping Museum Fatahillah.

Kawasan Kota Tua ini telah menjadi cagar budaya. Di depan Museum Fathillah terdapat lapangan yang luas, sehingga setiap pengunjung bisa berjalan-jalan, melakukan swafoto maupun menyewa sepeda onthel untuk menambah kesan klasik di lokasi wisata.

Sepeda Onthel Wisata Kota Tua ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri ataupun wisatawan dari luar negeri pada hari libur, bahkan tempat penyewaan sepeda onthel laris didatangi pengunjung yang ingin bersepeda mengelilingi Kota Tua.

Tempat ini cocok untuk dikunjungi bersama teman, saudara ataupun keluarga.

"Saya bersama keluarga datang kesini untuk pertama kalinya, karena anak saya ingin sekali ke Kota Tua dan bersepeda keliling Kota Tua dengan tarif sewa Rp20.000 untuk setengah jam pemakaian kita sudah bisa berkeliling Kota Tua. Tempat ini sangat cocok untuk liburan bersama keluarga tercinta," ujar Mulyana.

Mulyana juga mengatakan sepeda onthel menjadi pilihan wisatawan untuk mengelilingi Kota Tua, dengan beragam warna sepeda dan memakai topi bundar membuat siapapun mengendari sepeda tua itu menjadi merasakan hal seperti zaman dulu.

Selain menyajikan wisata bersepeda dan museum, Kota Tua juga memiliki beberapa tempat swafoto yang bagus untuk dikunjungi seperti Pelabuhan Sunda Kelapa dan tempat baru yang masih ramai dibicarakan yaitu Kali Besar.

Pelabuhan Sunda Kelapa sering dijadikan sebagai spot foto yang menarik bagi para pengunjung. Kapal-kapal yang ada di sini merupakan hasil karya anak nusantara.

Pengunjung juga bisa mencoba objek sampan yang akan membawa kita berlayar menyusuri perairan di pelabuhan. Ojek sampan ini memasang tarif Rp50.000 atau bisa lebih tergantung dari rute.

Sedangkan tempat wisata baru di Kota Tua yaitu Kali Besar menyajikan pemandangan seperti di sungai-sungai yang berada di Korea Selatan, penataan yang bagus menarik perhatian warga untuk mengunjungi tempat ini dan menjadi pilihan baru warga ketika berkunjung ke Kota Tua.

Kali Besar yang berada di kawasan Kota Tua merupakan hasil dari revitalisasi kali yang ada di Jakarta.

Pemandu wisata Kota Tua identik dengan bangunan yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu, seperti museum wayang, fatahillah yang memiliki banyak benda bersejarah dan unik di dalamnya.

Contohnya di Museum Wayang yang berada di sebelah Museum Fatahilah terdapat berbagai macam wayang seperti wayang golek, wayang kulit yang berasal dari beberapa negara seperti Malaysia, Australia.

Namun sangat disayangkan, tempat wisata yang bersejarah seperti Kota Tua ini tidak menyediakan pemandu wisata. Seharusnya Pemprov DKI Jakarta memfasilitasi pengunjung dengan menyediakan pemandu wisata sejarah di Kota Tua.

Kota Tua ini menyajikan bangunan dan benda-benda yang bersejarah serta unik untuk dilihat, benda seperti wayang, meriam, buku dan yang lainnya sangat menarik untuk di bahas. Namun siapa yang bisa membahas hal seperti itu, maka perlu ada pemandu wisata di Kota Tua agar pengunjung bisa menikmati bukan hanya melihat namun mendapat informasi yang bagus dari benda dan bangunan bersejarah di Kota Tua ini," kata Alif, pelajar sekolah alam.

Alif juga mengatakan banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan sehingga bertebaran dimana-mana.

Karena itu Pemprov DKI Jakarta perlu menyediakan tempat sampah yang cukup sehingga tidak nampak lagi tebaran sampah yang berserakan.

Selain itu kesadaran para pengunjung untuk sama-sama ikut menjaga kebersihan harus ditingkatkan supaya wisatawan betah berada di Kota Tua. (Antara-Arnaz, Alif, Yozzi, Fatima)

Comments

Popular posts from this blog

MIWF Makassar Dihadiri Penulis Mancanegara

Pendidikan Yang Membumi Untuk Anak Bangsa

Risensi Buku Pustaka dan Kebangsaan