5 Alasan Hari Ibu Diperingati Setiap 22 Desember


Kita terlahir ke dunia ini karena perjangan keras ibu. Sejak lahir ke dunia dan pertama kali menangis, sang ibulah yang menyambut kita dengan kebahagiaan dan penuh harapan.

Semua jasanya tidak terbendung dan tidak terhitung. Di setiap doanya selalu tersebut nama kita. Harapan besar ibu kepada anaknya. Ibu adalah penyelamat, sahabat, orang yang menemani saat sakit, selalu setia mendengarkan anaknya, dan seribu makna terkandung pada ibu.

Sebagai tanda penghormatan dan penghargaan kepada ibu di dunia ini, maka tercetuslah Hari Ibu, yang diperingati di Indonesia setiap tanggal 22 Desember. Hari Ibu Internasional justru diperingati setiap tanggal 12 Mei.

Alasan Hari Ibu Diperingati Setiap 22 Desember

1. Perjuangan para pahlawan wanita

Para pahlawan wanita, seperti Rohana Koedoes, Kartini, dan Dewi Sartika memiliki peran penting dalam pembangunan sekolah-sekolah untuk perempuan di Indonesia. Mereka berpikir, seorang ibu yang pintar dan cerdas akan memiliki modal besar untuk menjadikan anaknya pintar.

2. Membela hak perempuan

Hampir seluruh agenda dalam kongres membicarakan hak-hak perempuan. Bisa dilihat dari pertemuan hari kedua kongres, dimana Moega Roemah membahas soal perkawinan anak. Pada zaman dahulu sebelum kemerdekaan, perempuan seringkali dikawinkan meski masih belia.

Perwakilan Poetri Boedi Sedjati (PBS) dari Surabaya menyampaikan tentang derajat dan harga diri perempuan Jawa. Kemudian disusul Siti Moendji'ah dengan ìDerajat Perempuanî dan Nyi Hajar Dewantaraóistri dari Ki Hadjar Dewantara yang membicarakan soal adab perempuan.

3. Pidato Djami

Djami mengisahkan pengalaman masa kecilnya yang dipandang rendah karena menjadi seorang perempuan. Di masa kolonial dulu, hanya anak laki-laki yang diperbolehkan mengakses pendidikan.

Sedangkan perempuan hanya boleh berkutat dalam urusan rumah tangga. Pandangan usang itu mengakar kuat, bahkan hingga kini. Pendidikan bagi perempuan dianggap tidak penting, karena selalu berakhir ke dapur.

Tetapi, Djami mempunyai pendapat lain soal itu. Dia mengatakan, ìTak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya.î

Artinya, tidak akan berhasil seorang anak jika ibunya tidak memiliki pengetahuan dan budi yang baik.

4. Warga Indonesia protes

Saat Presiden Soekarno menetapkan Hari Kartini sebagai bentuk penghargaan terhadap aktivis yang memperjuangkan emansipasi wanita, yaitu Raden Ajeng Kartini, banyak warga Indonesia pada saat itu memprotes kebijakan presiden karena Kartini dianggap hanya melakukan perjuangan di daerah Jepara dan Rembang.

Kartini juga dianggap lebih pro terhadap Belanda. Untuk menghindari protes dari para warga tersebut, Presiden Soekarno yang terlanjur sudah menetapkan Hari Kartini, akhirnya menetapkan Hari Ibu untuk mengenang para pahlawan wanita lainnya.

5. Kongres perempuan pertama

Hari Ibu ditetapkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Karena pada tanggal tersebut pertama kalinya diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang dilangsungkan di Yogyakarta pada tahun 1928. Peristiwa ini dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

Pada tanggal tersebut berbagai pemimpin dari organisasi perempuan di seluruh Indonesia berkumpul untuk bersatu dan berjuang untuk kemerdekaan serta perbaikan nasib kaum perempuan.

Hari Ibu adalah momen dimana kita mengingat semua jasa-jasa yang pernah dilakukan ibu. Kita belum bisa membalas semuanya, atau bahkan belum menjadi anak yang baik.

Tak luput melawan ibu bila dinasihati, tidak mengikuti yang beliau katakan. Lebih senang melakukan hal-hal yang tidak penting ketimbang membantu ibu, atau bahkan belum pernah mengucapkan "aku sayang ibu".

Selamat Hari Ibu

Comments

Popular posts from this blog

Wali Kota Makassar Harap Mubaligh Jadi Pemersatu

Peringatan Tsunami Aceh Nelayan Dilarang Melaut

Mataram Mendadak Sepi Gegara Hoaks Gempa